PRIBUMINEWS — Pelemahan nilai tukar Rupiah yang sekarang ada di level Rp 13.536 per USD dinilai lebih banyak lantaran faktor ekspektasi dan spekulasi.

Menurut ekonom senior Standard Chartered Bank Indonesia, Alexander Eric Sugandi, ketika membahas nilai tukar, sentimen yang bersifat jangka panjang yakni yang berkaitan dengan fundamental ekonomi suatu negara, misalnya kondisi neraca pembayaran, pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan lainnya.

Sedangkan untuk jangka pendek yang berperan penting dalam pergerakan nilai tukar adalah berkaitan dengan ekspektasi. Eric menyontohkan, ekspektasi pasar mengenai pertumbuhan ekonomi, lalu ekspektasi neraca pembayaran, kinerja ekspor, ekspektasi kebijakan The Federal Reserve (The Fed), dan lainnya.

Tapi itu, menurutnya, ekspektasi yang ada di pikiran para pelaku pasar. Sementara, fundamentalnya bisa sesuai ekspektasi, bisa juga tidak.

“Lalu ada banyak pertanyaan, rupiah sekarang ini ada di Rp 13.536 per USD, itu apa sih faktor yang mempengaruhi? Kalau saya bilang itu lebih karena ekspektasi. Jadi faktor yang sifatnya jangka pendek,” kata Eric dalam Diskusi StandChart bertajuk ‘Indonesia: Seeing is Believing’ di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (8/8) malam.

Eric menilai, pelaku pasar keuangan sejauh ini sudah melakukan penyesuaian ekspektasi bahwa nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar AS bisa menuju level Rp 14.000.

Ekspektasi pelaku pasar terhadap nilai tukar rupiah, kata dia, masih berpotensi akan melemah lebih jauh. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa fundemantal rupiah sekarang ini seharusnya di level Rp 12.800 hingga 13.000 per USD.

“Jadi sebenarnya (depresiasi rupiah) sudah cukup jauh. Kalau dilihat real efective exchange rate mungkin tidak terlalu. Kalau kami lihat satu dasawarsa terakhir, real efective exchange rate sekarang rupiah itu 4,5 persen di bawah PAR. Artinya sudah dekat, tetapi apakah nilai yang sekarang ini benar-benar mencerminkan fundamental? Itu jauh,” ujarnya.

Lebih jauh Eric menjelaskan, jika berbicara mata uang secara global, selama ini memang terjadi fenomena super dolar. Mata uang dolar AS menguat terhadap hampir seluruh mata uang dunia. “Dan kalau rupiah sampai akhir tahun berapa? Forecast kami akan berada di Rp 13.900 per dolar,” ungkap dia.

Ia mengakui, berdasarkan hasil strest test yang dilakukan rupiah memang diperdagangkan bisa cukup ekstrem. “Kami lihat rupiah Rp 13.900 tahun ini dan market melihat sudah mem-price-in mendekati Rp 14.000 per dolar AS. Kalau kita lihat konsensus Bloomberg itu, untuk kuartal empat kami lebih bearish dibanding konsensus market di Bloomberg,” jelas Eric. [otn/iba]

Comments

comments