PRIBUMINEWS – Salim Kancil mati dibunuh. Ia seorang petani ya hanya seorang petani. Ia dibunuh karena hanya menolak pertambangan di Lumajang.

Kisahnya pagi-pagi lazimnya orang tua. Salim Kancil lagi asyik menggendong cucunya dirumahnya, puluhan orang mendatanginya. Kemudian Salim Kancil menaruh cucunya dilantai, tangan Salim Kancil diikat terus diseret ke balai desa setempat. Sampai balai desa Salim Kancil dipukuli dan siksa puluhan orang, Di strum Listrik, lanjut Digergaji lehernya
pada akhirnya Salim Kancil meninggalkan kita semua,
Kemudian jenasahnya di buang dijalan didepan pintu masuk kuburan.
 Dia cuma seorang petani!!! begitu timeline di FB Wanggi Hoediyatno.

kancilLumajang merupakan sebuah daerah yang terletak di kaki Gunung Semeru yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil pasir terbaik di Indonesia. Di daerah ini terdapat pasir kali dan pasir besi. Pasir kali adalah pasir yang digunakan untuk bahan bangunan. Sementara pasir besi, diolah lagi untuk diambil kandungan bijih besinya. Untuk pasir besi, tidak ada di sembarang tempat.

Namun hanya daerah-daerah tertentu di Indonesia yang punya pasir komoditas ekspor ini. Tapi tidak sembarang orang bisa seenaknya mengeruk. Hanya perusahaan yang mengantongi izin dari pemerintah pusat yang bisa mengambilnya. Di Lumajang sendiri, kawasan berlimpah pasir tersebar di sungai-sungai Kecamatan Pronojiwo, Pasirian, Pasrujambe dan Candipuro. Di sini truk pengangkut pasir terlihat menyemut setiap hari.

Namun sayangnya, banyak penambang pasir ilegal yang bertebaran di desa tersebut. Padahal, Ketua DPRD Lumajang, H Agus Wicaksono S.Sos, sudah berkali-kali meminta Pemerintah Kabupaten Lumajang bertindak tegas terhadap penambangan pasir yang berlangsung tanpa izin atau illegal. Penambangan pasir di bibir pantai yang berlangsung hingga sekarang, harus mendapatkan perhatian dari pemerintah. Bahkan Agus menyebut pencurian terbesar di Lumajang adalah pencurian pasir.

“Kalau mau jujur sebenarnya pencurian terbesar di Kabupaten Lumajang adalah pencurian pasir. Kita lihat saja penambangan pasir sampai ke bibir pantai dengan kerusakan lingkungan yang makin parah seperti itu. Mana ada izin penambangan sampai ke pantai seperti itu. Kalau penambangan yang berlangsung di bibir pantai itu kan sampai sekarang masih ada. Belum lagi ditempat lainnya yang asal tambang saja, itu harusnya segera ditindak,” jelas Agus.

Agus lantas mencontohkan bukti penambangan yang ada adalah besarnya pasir yang keluar dari Lumajang setiap hari. Ini sebenarnya merupakan bukti yang adanya penambangan yang masih berlangsung secara luar biasa di Lumajang. Pertanyaannya, apakah mereka mengangkut dari lokasi penambangan yang legal. “Pasir kita setiap hari diangkut keluar kota dalam jumlah sangat besar dan terus bertambah. Tapi PAD kita terus turun, masak yang begini akan kita biarkan. Sudah seharusnya penertiban itu segera dilakukan agar tidak semakin banyak pasir yang keluar dari Lumajang namun tidak memberikan PAD bagi Kabupaten Lumajang,” jelas Agus kemudian.

Bahkan sebelumnya Agus menyebut ada pihak-pihak yang bermain dalam masalah ini, sehingga terjadi pembiaran terhadap maraknya penambangan pasir di Lumajang walau tanpa adanya ijin dari pemerintah. “Sulit dibuktikan, tapi pasti ada yang bermain dalam masalah ini,” tandasnya.

Keuntungan besar dari pertambangan pasir ini, rupanya telah membuat sebagian orang rela melakukan segala cara. Dan baru-baru ini, tepatnya pada 26 September 2015, telah terjadi penganiayaan dan pembunuhan terhadap petani penolak tambang di Desa, Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Korban yang mati terbunuh yakni Namri Salim alias Kancil. Dia dijemput oleh sejumlah preman yang disinyalir suruhan kepala desa dari rumahnya dan dibawa ke Kantor Desa Selok Awar-Awar. Kuat dugaan, Kancil dianiaya secara beramai-ramai dengan kedua tangan terikat. Mereka kemudian membantainya dengan cara kepala dicangkul, dipukul dengan batu dan benda keras lainnya. Setelah meninggal, mayatnya dibuang di tepi jalan dekat areal perkebunan warga.

Berikutnya, korban penganiayaan Bapak Tosan, yang saat ini mengalami luka parah dan dalam kondisi kritis di rumah sakit di Malang. Dia juga dijemput paksa di rumahnya, Bapak Tosan melawan dan dihajar beramai-ramai di dekat rumahnya dan beliau sempat melakukan perlawanan. Dia diselamatkan warga lain dan segera dibawa ke rumah sakit. Dan menurut Informasi, kejadian berawal ketika sejumlah warga hendak melakukan aksi penolakan tambang di obyek wisata Watu Pecak Pinggir Pantai Selatan. Keduanya terlibat dalam aksi menolak penambangan pasir di Desa Selok Awar-awar. Warga menggelar demonstrasi pada 9 September 2015. Aksi itu menuntut penghentian penambangan bahan galian C pasir. Dimana aktivitas penambangan tersebut dinilai telah merusak lingkungan pesisir pantai.

Sejak setahun terakhir ini, terjadi pengerukan besar-besaran di pesisir pantai yang menyebabkan lubang-lubang berdiameter lima meter dengan kedalaman satu meter.Protes warga juga dilakukan dengan cara menghentikan setiap truk pengangkut yang melintas.

Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) dalam keterangan tertulisnya, sudah sejak lama warga petani di desa tersebut diintimidasi oleh Kepala desa dan kroninya untuk tidak melawan aktivitas pertambangan pasir yang dijalankan oleh sang kepala desa. Kedua korban termasuk petani dari sekian banyak petani lainnya yang kukuh bertahan melakukan penolakan secara terbuka. Fakta ini menunjukkan betapa petani telah dirampas ruang produksinya sekaligus dicabut nyawanya secara paksa.

Menurut koordinator Jatam, Hendrik, petani Desa Selok Awar-awar akan diintimidasi oleh kepala desa, jika mereka melawan kebijakan aparatur desa. “Kedua korban termasuk petani dari sekian banyak petani lainnya yang kukuh bertahan melakukan penolakan secara terbuka. Fakta ini menunjukkan betapa petani telah dirampas ruang produksinya sekaligus dicabut nyawanya secara paksa,” kata Hendrik dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu (27/8).

Melihat adanya permasalahan yang tak kunjung selesai itu, Hendrik meminta agar pihak Kepolisian dari Polres Lumajang segera mengusut tuntas pelaku pembunuhan dan penganiyaaan sampai ke aktor intelektualnya. “Kami juga meminta agar penambangan pasir dan perampasan lahan pertanian milik warga segera dihentikan,” tegas Hendrik.

Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jatim secara tegas mengutuk keras pembunuhan terhadap dua petani penentang tambang pasir yang tewas. Aparat kepolisian diminta mengusut tuntas dan menangkap pelaku tindakan biadab itu. “Kami mengutuk keras pembunuhan tersebut dan mendesak agar aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini dan menangkap pelakunya,” kata Direktur WALHI Jatim Ony Mahardika, Sabtu (26 September 2015).

Dia pun meminta agar pemprov Jatim dan pemkab Lumajang mencabut izin pertambangan pasir di Desa Selok, Kecamatan Pasirian, Lumajang. Alasannya, tambang itu dinilai telah merusak lingkungan dan menyebabkan lahan pertanian warga tercemar. “Kami mendesak agar Pemkab Lumajang dan Pemprov Jatim untuk menghentikan dan mencabut izin seluruh aktivitas pertambangan pasir. Dari pantauan kami, sebagaian masyarakat di Desa Selo, Kecamatan Pasirian mendapat teror. Dan dari data yang kami dapatkan kini mereka meminta perlindungan kepada polsek setempat,” pungkasnya.

Begitupun dengan LBH Jakarta yang dalam rilisnya menilai bahwa peristiwa yang menimpa kedua orang korban merupakan pelanggaran HAM serius dan negara harus turut bertanggungjawab atas terjadinya peristiwa tersebut.

“Kami menyayangkan lambatnya antisipasi dari pihak pemerintah daerah dan terutama kepolisian. Tragedi yang menimpa Samsul dan Tosan seharusnya dapat dicegah apabila pemerintah dan kepolisian setempat lebih cepat bergerak dalam mendeteksi konflik di wilayah tersebut. Apalagi, penolakan warga setempat terhadap proyek penambangan pasir di wilayah pesisir mengindikasikan adanya potensi penyelewengan izin yang dapat berakibat pada terjadinya kerusakan lingkungan,” ujar Alghiffari Aqsa, Direktur LBH Jakarta.

Tim 12

Dan pihak aparat setempat, yakni Polres Lumajang dalam keterangannya mengaku telah berhasil menangkap 12 terduga pelaku pembunuhan dan penganiaya 2 warga Selok Awar-awar Kecamatan Pasirian. Para pelaku ditangkap dari keterangan warga dan pelacakan melalui sinyal handphone, Sabtu (26 September 2015). Informasi yang berhasil dihimpun dari Mapolres Lumajang, petugas mendapat informasi ada 12 orang yang dikenal dengan sebutan tim 12 yang mengeksekutor korban. Usai beraksi, para pelaku ini langsung kabur dan keluar desa bersembunyi di rumah sanak familinya. “Setelah kita kantongi nama para pelaku, saya perintahan Kasat Reskrim melakuan perburuan dengan anggotanya,” kata Kapolres Lumajang, AKBP Fadly Munzir Ismail.

Lanjut dia, pihaknya memerintahkan untuk menangkap salah satu tetua dari tim 12 yang diketahui bernama Dasir. Dari Dasir akhirnya diketahui keberadaan 11 pelaku lainnya. “Dari pengakuan Dasir, kita bisa lacak 11 pelaku lainnya, awalnya Dasir bersama rekannya dan 10 lainya dijemput di tempat berbeda,” terang mantan Kasat Lantas Polrestabes Surabaya itu.

Fadly menambahkan, bahwa pihaknya akan mengusut tuntas siapa dibalik aksi pembunuan yang menewaskan seseorang dan melukasi salah satu warga Selok yang kini masih kritis. “Saat ini, tim penyidik di Satreskrim sedang bekerja full time,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Jatim Freddy Poernomo, mendesak Gubernur JawaTimur, Soekarwo, untuk segera memecat Kasospol PP Sutartib, terkait tewasnya warga saat menggelar aksi demo penolakan penambangan pasir di Lumajang, tersebut. “Kami dulu memberikan rekomendasi ke gubernur agar dicopot. Namun, setelah adanya korban jiwa di Lumajang tersebut kami rekomendasikan untuk dipecat,” tegas Freddy.

Freddy menjelaskan, tugas dari Satpol PP Jatim adalah penegakan perda, salah satunya menertibkan para penambang galian C pasir liar karena telah merusak lingkungan pesisir pantai. “Ini tugas satpol PP untuk melakukan penertiban. Buktinya, gara-gara satpol PP Jatim tidak bekerja sekarang ini ada warga tewas. Sutartib selaku Kasatpol PP Jatim harus bertanggungjawab,” sambung politisi asal Partai Golkar ini.

Diutarakan Freddy Poernomo, untuk tindak lanjut pengusutan tewasnya warga tersebut, Komisi A DPRD Jatim mendukung langkah WALHI Jatim untuk melakukan investigasi atas kematian keduanya. “Kami juga merekomendasikan Pemprov Jatim untuk menutup tambang liar di Lumajang,” ujarnya. Mafia Tambang Pasir Lumajang ini bikin kita makin ngeri  hidup di negeri ini (DSU/Cel)

 

 

Comments

comments