PRIBUMINEWS – Tampaknya, mimpi pembangunan pembangkit listrik 35.000 Megawatt (MW) benar-benar hanya kembang tidur atau malah sekadar ngelindur. Apalagi, masih ada tambahan 7.000 MW sebagai sisa proyek fast track program (FTP) tahap dua.

Pasalnya, menurut Wakil Ketua Unit Pelaksana Program Pembangunan Ketenagalistrikan (UP3KN) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Agung Wicaksono, hingga September 2015, pembangkit listrik yang telah selesai dibangun hanya 1.500 (MW). Tentu saja, progres tersebut masih tergolong minim atau baru 3,57% dari total kapasitas karena proyek tersebut harus selesai dalam waktu lima tahun.

Diungkapkan Agung, beberapa pembangkit yang sudah berhasil dibangun antara lain PLTU Pangkalan Susu di Medan (220 MW), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang 5 di Garut (30 MW), serta PLTU Banjarsari di Sumatra Selatan (220 MW). “Delapan bulan sudah 1.500 MW yang selesai dibangun. Ada progres,” ujar Agung di Jakarta, Ahad kemarin (4/10).

Walau progres itu tidak begitu signifikan, Agung optimistis hingga akhir tahun 2015 beberapa pembangkit listrik dengan total kapasitas 3.793 MW dapat beroperasi secara komersial. Tapi, ia juga mengakui, pembebasan lahan dan perizinan masih menjadi kendala utama. Karenanya, pemerintah akan menerbitkan peraturan untuk mengawal program ini agar sesuai dengan rencana. “Nanti Perpres khusus 35.000 MW ini benar-benar mengatur hal detail, seperti pengadaan energi primer serta pengadaan barang jasa yang mempermudah PLN,” katanya.

Sebelumnya, pada 7 September lalu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli mengatakan, proyek pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW tidak mungkin dicapai dalam waktu lima tahun. “Setelah kami bahas, 35.000 MW tidak mungkin dicapai lima tahun, paling mungkin itu 10 tahun,” kata Rizal. (Tom/Pur)

Comments

comments