PRIBUMINEWS – Majalah Tempo menurunkan laporan mengenaik peristiwa yang terjadi setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Magetan, Jawa Timur. Laporan majalah tersebut kemudian ditanggapi Iwan Yuliyanto lewat blog-nya, iwanyuliyanto.co, pada 2 Oktober 2015 lalu. Iwan mencoba meluruskan laporan Tempo yang menurut dia sumbernya kurang kuat dan hanya  “katanya”, bahkan sumber “katanya” itu sudah meninggal pula orangnya.

Berikut tulisan yang dimuat di iwanyulianto.co, tanpa pengubahan apa pun.

TEMPO Memutar-balikkan Fakta Killing Fields 1948 di Magetan

Bismillah…. Apakah masih ingat pelajaran sejarah tentang peristiwa pemberontakan PKI Madiun di tahun 1948? Hal yang menarik adalah, mengapa belum ada 10 tahun kemudian PKI sudah menjadi parpol dengan kekuatan massa yang besar dalam Pemilu 1955?
Jawabannya bisa kita temukan beserta buktinya pada situs favorit saya, situs yang berfokus pada penelitian jejak-jejak Islam, di sini: Tinta Merah di Lembar Sejarah. Di dalam artikel tersebut disampaikan bahwa PKI di bawah pimpinan DN Aidit berhasil meracik ulang sejarah Pemberontakan Madiun. Hasil racikan tersebut kemudian dijadikan pukulan balik ke lawan-lawan politiknya (tentu saja berupa fitnah). Hatta, Sukirman, dan Natsir dituding sebagai biang kerok/pihak yang bersalah dalam peristiwa Madiun. PKI kemudian memposisikan diri sebagai pihak yang terzalimi. Bisa Anda bayangkan betapa dahsyatnya upaya mereka dan media-media pendukungnya mencuci otak publik hingga bisa bersimpati dengan ‘perjuangan’ PKI.Alhamdulillah, setelah kebangkitannya kembali, pemberontakan mereka di tahun 1965 berhasil ditumpas.

Kini, isu seputar komunisme berkembang makin jauh, peristiwa 1965 telah dikemas ulang sebagai isu besar pelanggaran HAM. Beragam wacana seputar peristiwa 1965 muncul. Pembahasannya menunjuk seputar pelanggaran HAM yang terjadi tahun 1965 hingga beberapa tahun sesudahnya, dan mengupayakan rekonsiliasi antara pelaku pelanggaran HAM dan korban. Goals mereka adalah dicabutnya TAP MPRS No. XXV/1966. Goal berikutnya adalah menuntut pemerintah meminta maaf kepada korban PKI.Dalam membentuk mindset publik begitu deras dimunculkan opini / wacana di media-media yang tendensinya menyalahkan umat Islam sebagai pelaku pelanggaran HAM dan cenderung menepikan PKI sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam pusaran konflik pada masa itu. Mereka telah menyusun sejarah versi mereka sendiri kemudian dijejalkan pelan-pelan ke publik hingga diterima tanpa penolakan. Mereka pun tidak risih menggunakan atribut PKI. Mungkin tanpa Anda sadari, bahwa mereka pun berhasil mulai membiasakan media dan masyarakat hanya menyebut “G30S”, padahal seharusnya “G30S/PKI”. Tujuannya agar terbangun mindset bahwa PKI bersih dari peristiwa Gerakan 30 September yang menculik para jendral.

Bila berhasil menyuci bersih stempel buruk masa lalu, jangan kaget bila terjadi kebangkitan PKI dengan wajah yang baru. Meniru langkah DN Aidit.

Maka sungguh kasihan betul generasi penerus kita nanti, yang tidak tahu apa-apa, bukan pelaku sejarah, namun karena salah bergaul atau salah bacaannya, otak mereka bisa menerima kembali paham komunis dan membiarkan PKI bangkit dan berkembang di masyarakat.

Melalui jurnal ini, saya menyampaikan sebuah contoh bagaimana pemutar-balikan fakta sejarah PKI oleh media nasional TEMPO, yang awalnya PKI sebagai pihak yang menzalimi, kemudian coba di-twist sebagai pihak yang terzalimi. Semoga bacaan ini bisa menjadi bekal bagi generasi penerus kita agar tidak mudah disesatkan dalam lautan informasi.

Tulisan di bawah ini saya sunting dan susun ulang dari catatan Agus Sunyoto, 4/10/2012, yang aslinya berbentuk dialog.

TEMPO Memutar-balikkan Fakta Killing Fields di Magetan Sebagai Kuburan Massal PKI

Tempo PKI

Pada Liputan Khusus Majalah TEMPO edisi 1-7 Oktober 2012, halaman 65, tentang peristiwa pembantaian 1948 di Magetan. Dikisahkan oleh Tempo bahwa yang dibantai adalah orang-orang PKI kemudian dimasukkan ke dalam sumur neraka. Padahal sebenarnya PKI lah yang membantai orang-orang bukan PKI kemudian dimasukkan ke dalam sumur neraka tersebut. Sungguh keterlaluan, sejarah diputar-balikkan oleh Tempo.

Yang pengen baca Liputan Khusus TEMPO edisi tersebut, bisa di-download di sini.

Kejanggalan 1:
Dalam Liputan Khusus TEMPO tersebut dijelaskan ”Tentang sumur ‘neraka’ di Dusun Puhrancang, Desa Pragak, Kecamatan Parang, Magetan. Puluhan tahun silam, ratusan orang yang dicap anggota PKI dibantai dan dilemparkan ke dalam sumur itu. Demikian, menurut Sukiman, 47 tahun, pemilik lahan yang ada sumur ‘neraka’ itu.”

Logikanya kalau Sukiman di tahun 2012 usianya 47 tahun, berarti pada tahun 1965 saat orang-orang PKI dibunuh dan dilempar ke sumur ‘neraka’ itu usianya baru beberapa bulan. Apa mungkin bayi usia belum setahun jadi saksi pembunuhan? Menurut TEMPO, Sukiman memperoleh penjelasan tentang sumur ‘neraka’ itu dari mertuanya yang sudah meninggal dunia dua tahun silam. Jadi, ternyata liputan Tempo menerapkan jurnalisme “katanya”. Parahnya lagi, yang mau dikonfirmasi sudah meninggal dunia.

Tambah parah lagi, TEMPO kemudian menyimpulkan bahwa sumur ‘neraka’ itu adalah “Ladang Pembantaian” seolah-olah sama dengan peristiwa genocida di Kampuchea yang dilakukan Khmer Merah di bawah Pol Pot yang sudah diangkat jadi film berjudul Killing Fields (Ladang Pembantaian). Sungguh kesimpulan yang ngawur.

Kejanggalan 2:
Selain Sukiman masih ada narasumber lain, yaitu Kaderun, 69 tahun, Kadus Jombok, Desa Pragak. Kaderun adalah aktivis Pemuda Muhammadiyah yang menjadi Banser. Menurutnya, “Sumur itu dalamnya 27 meter dengan diameter 2 meter. Ada 82 orang yang dimasukkan ke sumur itu setelah dibunuh. Eksekutornya adalah Yunus, tentara yang bertugas di Perwira Urusan Teritorial dan Perlawanan Rakyat (Puterpra) Kecamatan Parang, pangkat terakhirnya pembantu letnan dua. Puterpra itu kini berubah menjadi Komando Rayon Militer alias Koramil.”

Kejanggalannya adalah: apa benar Puterpra sekarang berubah menjadi Koramil?

Ya itulah narasumber TEMPO. Redaktur pelaksananya pun asal muat, tidak kroscek terhadap data apalagi melakukan triangulasi. Sejak zaman kolonial, daerah militer di kabupaten disebut District Militair yang di era kemerdekaan disebut daerah KODIM (Komando Distrik Militer). Di bawah KODIM adalah daerah setingkat kecamatan yang disebut Onder District Militair yang di masa kemerdekaan disebut KODM (Komando Onder Dristrik Militer) yang berubah menjadi Komando Rayon Militer disingkat Koramil. Tidak ada sejarah militer Koramil berasal dari Puterpra.

Kejanggalan 3:
Eksekutor PKI itu adalah Yunus yang melakukannya seorang diri.

Kejanggalan 4:
“Bahkan ada lagi kuburan massal karya Peltu Yunus di hutan Gangsiran di Dusun Gangsiran, Desa Mategal, Kecamatan Parang. Para korban dimasukkan ke sejumlah lubang yang dalamnya tidak sampai dua meter. Jumlah yang tewas belasan sampai puluhan. Begitu penuh langsung diuruk dan ditandai dengan pohon.”

Seperti yang disebutkan diatas, bahwa Kaderun menyatakan jumlah PKI yang dimasukkan sumur ‘neraka’ di Dusun Puhrancang itu 82 orang. Darimana angka itu? Apakah jumlah itu sudah pasti? Padahal TEMPO tegas-tegas menyatakan bahwa “Puluhan tahun silam, ke dalam sumur itulah RATUSAN ORANG yang dicap anggota PKI dibantai dan dilemparkan…”. Manakah yang benar, 82 orang seperti kesaksian Kaderun ataukah laporan semaunya TEMPO yang menyebut angka RATUSAN ORANG?

Kejanggalan 5:
Ada saksi lain lagi bernama Sumarwanto yang memberi angka 700 orang PKI sebagai korban di hutan Gangsiran. Sumarwanto tidak tahu sendiri, Dia diberitahu bapaknya. Jurnalisme “katanya” lagi. Kalau mau akurat, mestinya Tempo kejar informasi dari bapaknya Sumarwanto. Jadi angka pasti berapa isi ‘Ladang Pembantaian’ itu belum jelas, karena belum pernah ada yang menggali dan menghitung jumlah mayat di dalam hutan, … kecuali jika Kaderun, mertuanya Sukiman, dan bapaknya Sumarwanto adalah memang eksekutor PKI sehingga mereka tahu pasti jumlah angkanya, dan lancar diwawancarai. Lazimnya yang membunuh pasti lebih tahu kondisi para korbannya.

KISAH SEBENARNYA PERISTIWA PEMBANTAIAN DI SUMUR NERAKA MAGETAN

Kabupaten Magetan selama ini sudah dikenal di dunia sebagai tempat beradanya lubang-lubang Sumur Pembantaian (Killing Holes) dan “Ladang Pembantaian” (Killings Fields) sebagaimana dicatat dalam buku:

  1. Lubang-lubang Pembantaian: Pemberontakan FDR/PKI 1948 di Madiun ditulis Maksum – Agus Sunyoto – Zainuddin terbitan Grafiti Press (1990);
  2. Peristiwa Coup berdarah PKI 1948 di Madiun ditulis Pinardi terbitan Inkopak-Hazera (1967);
  3. Pemberontakan Madiun: Ditinjau dari hukum negara kita ditulis Sudarisman Purwokusumo terbitan Sumber Kemadjuan Rakjat (1951);
  4. De PKI in Actie: Opstand of Affaire (Madiun 1948: PKI Bergerak) ditulis Harry A.Poeze terbitan KITLV-Yayasan Obor (2011).

Jadi, sumur-sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” di Magetan itu sejatinya isinya orang-orang yang dibunuh oleh PKI. Itu faktanya! Bukan seperti yang dilaporkan TEMPO. Jangan sampai generasi penerus bangsa ini jadi lebih mengenal kota Magetan adalah tempat pembantaian orang-orang PKI oleh umat Islam yang memusuhi PKI,… hanya berdasarkan jurnalisme “katanya”.

Ada banyak jumlah sumur-sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” karya PKI di Magetan itu. Yang sudah ditemukan ada 7 sumur “neraka” dan 2 “Ladang Pembantaian”, yaitu:

  1. Ladang Pembantaian Pabrik Gula Gorang Gareng di Desa Geni Langit.
  2. Ladang Pembantaian Alas Tuwa di Desa Geni Langit.
  3. Sumur Neraka Desa Dijenan, Kec. Ngadirejo, Kab. Magetan.
  4. Sumur Neraka Desa Soco I Kec. Bendo, Kab. Magetan.
  5. Sumur Neraka Desa Soco II Kec. Bendo, Kab. Magetan
  6. Sumur Neraka Desa Cigrok Kec. Kenongomulyo, Kab. Magetan
  7. Sumur Neraka Desa Pojok Kec. Kawedanan, Kab. Magetan
  8. Sumur Neraka Desa Bogem Kec. Kawedanan, Kab. Magetan
  9. Sumur Neraka Desa Batokan Kec. Banjarejo, Kab. Magetan

Waktu sumur-sumur ‘neraka’ itu dibongkar tahun 1950, yang menyaksikan berpuluh ribu warga kabupaten dari berbagai desa terutama keluarga-keluarga yang mencari anggota keluarganya yang hilang diculik PKI. Begitulah, puluhan ribu warga Magetan menjadi saksi kebiadaban PKI yang memasukkan korban-korban mereka ke sumur-sumur ‘neraka’ itu. Jumlah korban dihitung. Diotopsi. Semua terdata rapi. Sebagian besar masih dikenali keluarga maupun tim dokter.

Siapa saja mereka yang dibantai PKI dan dimasukkan di sumur-sumur ‘neraka’ itu?
Dalam peristiwa biadab itu selain para pejabat kabupaten, juga banyak kyai yang dibunuh PKI.

Inilah data dari sumur “neraka” I di Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan yang berisi 108 mayat, yaitu:
Soehoed; R. Moerti (Kepala Pengadilan Magetan); Mas Ngabehi Soedibyo (Bupati Magetan); R. Soebianto (Sekretaris Kab. Magetan); R. Soekardono (Patih Magetan); Soebirin; Imam Hadi; R. Joedo Koesoemo; Soemardji; Soetjipto; Iskak; Soelaiman; Hadi Soewirjo; Soedjak; Soetedjo; Soekadi; Imam Soedjono; Pamoedji; Soerat Atim; Hardjo Roedino; Mahardjono; Soerjawan; Oemar Danoes; Soehari; Mochammad Samsoeri; Soemono; Karyadi; Soedradjat; Bambang Joewono; Soepaijo; Marsaid; Soebargi Haroen Ismail; Soejadijo; Ridwan; Marto Ngoetomo; Hadji Afandi; Hadji Soewignjo; Hadji Doelah; Amat Is; Hadji Soewignyo; Sakidi; Nyonya Sakidi; Sarman; Soemokidjan; Irawan; Soemarno; Marni; Kaslan; Soetokarijo; Kasan Redjo; Soeparno; Soekar; Samidi; Soebandi; Raden Noto Amidjojo; Soekoen; Pangat B; Soeparno; Soetojo; Sarman; Moekiman; Soekiman; Pangat/Hardjo; Sarkoen B; Sarkoen A; Kasan Diwirjo; Moeanan; ada sekitar 40 mayat tidak dikenali karena bukan orang Magetan.

Inilah data dari sumur “neraka” II Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan yang berisi 22 mayat, yaitu:
R.Ismiadi (Kepala Resort Polisi Magetan); R.Doerjat (Inspektur Polisi Magetan); Kasianto (anggota Polri); Soebianto (anggota Polri); Kholis (anggota Polri); Soekir (anggota Polri); Bamudji (Pembantu Sekretaris BTT); Oemar Damos (Kepala Jawatan Penerangan Magetan); Rofingi Tjiptomartono (Wedana Magetan); Bani (APP.Upas); Soemingan (APP.Upas); Baidowi, Naib Bendo; Reso Siswojo (Guru); Kusnandar (Guru); Soejoedono (Adm PG Rejosari); Kjai Imam Mursjid Muttaqin (Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran); Kjai Zoebair; Kjai Malik; Kjai Noeroen; Kjai Moch.Noor.”

TEMPO mau memutar-balikkan fakta sejarah dan membentuk sudut pandang baru bersifat manipulatif bahwa sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” di Magetan berisi mayat anggota PKI. Bumi Magetan yang dalam fakta sejarah jelas-jelas ditebari sumur-sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” hasil kebiadaban PKI dibalik total oleh TEMPO menjadi bumi yang ditebari sumur-sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” berisi mayat anggota PKI yang disembelih Banser dan tentara. Demi usahanya menghapus jejak-jejak kebiadaban PKI.

Padahal, rakyat Magetan beserta sejarawan dan ilmuwan sedunia sudah menemukan fakta bahwa sumur-sumur ‘neraka’ dan “Ladang Pembantaian” di Magetan itu adalah hasil karya PKI ketika melakukan gerakan makar tanggal 18 September 1948. Sehingga kemudian pemerintah membangun monumen di tempat tersebut sebagai pengingat sejarah.

Monumen SocoDaftar Nama Korban PKI pada Monumen Soco. Sumur neraka di Soco adalah salah satu dari 7 sumur neraka yang ditemukan.

Begitulah Liputan Khusus TEMPO 1-7 Oktober 2012 yang membentuk Kebenaran Imajiner bahwa PKI adalah organisasi yang sama dengan organisasi umumnya yang beranggotakan orang-orang baik, yang tidak bersalah, kaum lemah tidak berdaya yang teraniaya dan terzhalimi, yang telah menjadi korban kebiadaban kaum beragama haus darah: NU, Ansor, dan Banser. Lalu dengan nada menggurui dalam OPINI-nya Redaktur Senior TEMPO mengimbau pembaca bahwa “tidak selayaknya kita alergi terhadap komunisme … […] … karena itu tidak perlu melarang penyebaran ajaran Komunisme, Marxisme, Leninisme. Ketetapan MPRS tentang itu sebaiknya dihapus saja”.

Astaghfirullah …
Waspadalah bahaya laten komunis!

Bersambung ke pengaburan fakta lainnya …

Salam,
Iwan Yuliyanto
02.10.2015

*************
Keterangan:
Agus Sunyoto adalah peneliti sejarah peristiwa Madiun 1948 yang diterbitkan dalam buku berjudul “LUBANG-LUBANG PEMBANTAIAN: GERAKAN MAKAR FDR/PKI 1948 DI MADIUN” (1990). Beliau peneliti konflik Banser-PKI 1965 di Jawa Tengah yang diterbitkan dalam buku berjudul “BANSER BERJIHAD MENUMPAS PKI” (1995). Beliau peneliti operasi Trisula 1966-1968 di Blitar yang dimuat bersambung di harian Jawa Pos September-Oktober 1995.

Comments

comments