PRIBUMINEWS – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli, mengkritik keras Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), terkait keuputusan jenis pengolahan gas di Blok Gas Masela, Maluku.

Rizal menyebutkan, SKK Migas bersama dengan pemerintah terkait yang mengurusi masalah Blok Masela berhasil dipengaruhi asing sehingga keputusannya nanti akan menguntungkan pihak asing pula. Seperti diketahui blok Masela dioperasikan oleh Inpex Corporation dari Jepang dan Shell dari Belanda.

“SKK migas gajinya tinggi tapi tidak pernah berpikir secara independen. On shore pasti lebih murah ketimbang teknologi baru. Dan akan ada industri turunan. Misal industri petrokimia yang bisa bikin pupuk dan lain-lain. Nilai tambah juga lebih tinggi. Kalau floating plan kan, kita impor aja semuanya,” ujar Rizal di acara diskusi mengenai energi, Rabu (7/10).

Rizal menilai, pembangunan unit pengolahan gas di darat akan lebih menguntungkan secara sosial ekonomi dibandingkan dengan unit di laut. Hal ini karena, apabila pemerintah tetap memutuskan membangun di atas laut, maka nyaris seluruh komponen akan diimpor tanpa menggunakan produk dalam negeri. Hal ini berbeda dengan pembangunan di darat yang akan ikut menumbuhkan ekonomi masyarakat di daratan.

“Yang kedua, mereka tidak mikir efek multiplayer-nya. Tapi apa efek dari pembangunan wilayah. Tapi pejabat kita yang tidak sensitif berhasil dibujuk oleh perusahaan asing yang menyarankan supaya bisa bikin floating plan,” tandasnya. (DSU/TOM)

Comments

comments