PRIBUMINEWS – “Kita targetkan paling dalam dua minggu semua sudah selesai,” kata Presiden Joko sewaktu mengunjungi lokasi bekas kebakaran hutan di daerah Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, 9 Oktober lalu. Dan, hari ini, Jumat (23/10), tepat dua pekan dari pernyataan Joko itu—kalau dua pekan masih dianggap sama dengan 14 hari.

Kenyataannya, jangankan selesai, berkurang saja tidak lahan dan hutan yang terbakar. Bahkan, menurut Kepala Pusat Data Informasi & Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam pernyataan tertulisnya pada Kamis (23/10), titik api atau hotspot kebakaran hutan dan lahan kini justru meluas menjadi 2.742 titik. Adapun daerah yang paling paling banyak titik apinya adalah Papua 744 hotspot, Sumatera Selatan 703 hotspot, Kalimantan Tengah 462 hotspot, Kalimantan Barat 290 hotspot, dan Kalimantan Timur 153 hotspot.

Diungkapkan juga, jarak pandang di sebagian wilayah yang terkena dampak asap justru sangat pendek dan berbahaya. Jarak pandang di Padang mencapai 1.200 meter, di Palembang mencapai 1.000 meter, dan di Jambi mencapai 700 meter. Tapi, jarak pandang di Ketapang hanya 300 meter, di Palangkaraya 100 meter, sementara di Pekanbaru hanya 50 meter. Banyak media lokal melaporkan terjadinya kecelakaan lalu lintas di daerah-daerah tersebut. Juga korban meninggal akibat menghirup asap.

Ramadhan Lutfi Aerli (9 tahun), misalnya, meninggal dunia dan ditemukan gumpalan asap dalam paru-parunya. Penemuan itu terlihat dari hasil CT scan yang ditunjukan dokter oleh ayah korban, Eri Wirya (46 tahun). Bocah warga Jalan Pangeran Hidayat, Pekanbaru, Riau, tersebut sebelum meninggal mengalami muntah-muntah, badan panas tinggi, dan kejang. “Dokter mengeluarkan hasil scan itu, ada gambar kayak gumpalan asap di paru. Itu bahasa dokter,” ujar Eri sebagaimana diberitakan republika.co.id, Rabu lalu (21/10).

Menurut BNPB, indeks kualitas udara (PM10) dalam dua bulan terakhir ini juga semakin memburuk. Indeks kualitas udara di Palangkaraya yang pada tanggal 4 Oktober lalu dikategorikan “berbahaya” karena berada di angka 983, hari Kamis kemarin mencapai 1.496. Demikian pula dengan indeks kualitas udara daerah-daerah lain yang juga sudah dikategorikan “berbahaya”, yaitu Pekanbaru yang mencapai 600 dan Jambi yang mencapai 712.

Bahkan, Tim Pemadam Kebakaran Hutan dari New South Wales, Australia (NSW RFS), yang baru tiba dari tugasnnya membantu pemadaman kebakaran hutan di Sumatera menilai, kebakaran hutan masih sulit dipadamkan, karena belum turunnya hujan.

Dilaporkan radio ABC, Australia, kebakaran hutan di Pulau Sumatera  yang dampaknya dirasakan di sejumlah kawasan Asia Tenggara terus menjadi perhatian dunia. Terlebih menurut pengawas lingkungan dunia, kebakaran hutan di Indonesia telah mengeluarkan gas rumah kaca ke atmosfer setiap harinya, dengan jumlah yang lebih besar dari apa yang biasanya terjadi di Amerika Serikat.

Dalam wawancaranya dengan ABC, Inspektur Ben Millington dari Pelayanan Pemadam Kebakaran New South Wales yang baru saja kembali dari Indonesia mengatakan, “kebakaran sepertinya belum bisa dipadamkan dalam waktu segera”. “Titik kebakaran yang kami hadapi sangat besar dan banyak. Pada hari Senin kemarin [19/10] ada 236 titik kebakaran di Pulau Sumatera saja,” tuturnya.

Sementara itu, LA Times pada  Kamis kemarin juga memberitakan, hampir 100.000 lahan hutan di Indonesia terbakar. Kebakaran hutan ini diprediksi akan menjadi kebakaran hutan terburuk di dunia sejak 2006.

Diungkapkan media itu, empat puluh empat hari sejak kebakaran meluas dan asap semakin membahayakan, belum terlihat tanda-tanda api akan segera padam dan asap berakhir.

Lembaga Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat juga menyatakan, dibandingkan dengan kebakaran biasa, kebakaran di lahan gambut dapat memancarkan hingga 10 kali lebih banyak metana, yaitu gas yang berasal dari rumah kaca yang membuat perubahan iklim 25 kali lebih besar dari karbondioksida.

Adapun situs BBC melaporkan, asap dari Indonesia juga telah mencapai kawasan Thailand selatan dan Filipina.

Jadi, dari mana sebenarnya Presiden Joko mendapat data sehingga sesumbar menargetkan akan mampu mengatasi kebakaran lahan dan hutan dalam waktu dua pekan? Apakah dia bicara asal-asalan, sebagaimana pernyataannya soal akan mulai meroketnya ekonomi Indonesia mulai September lalu, padahal kenyataannya justru semakin amburadul dan nilai rupiah di hadapan dolar Amerika Serikat pada September lalu sempat begitu terpuruk? Apa yang bisa kita harapkan dari seorang presiden bila perkataannya saja sulit “dipegang”? (Ron/Ton/Tom/Pur)

Comments

comments