PRIBUMINEWS – Ketidaksiapan pemerintah Joko-JK dalam mengantisipasi bencana asap akibat pembakaran hutan dan lahan kali ini dialihkan ke Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Menurut Mentri Koordinasi Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Panjaitan, BMKG gagal memprediksi dampak-dampak fenomena cuaca El Nino tahun ini, yang akan lebih parah dibandingkan tahun 1997. Diungkapkan Luhut, yang ditugasi Presiden Joko untuk memimpin respons pemerintah atas bencana tersebut, BMKG tidak meramalkan tingkat keparahan dampak El Nino. “Saya harus akui bahwa ada kesalahan dalam prediksi BMKG yang tidak memperkrakan El Nino tahun ini akan lebih buruk daripada tahun 1997. Prediksi kita salah,” ujarnya.

Sementara itu, di tempat terpisah, aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menilai pemerintah tidak serius menangani kebakaran hutan dan bencana asap. Yang ada hanyalah berharap hujan turun. Padahal, kasus serupa sudah berlangsung puluhan tahun, tapi tidak tertangani, sehingga selalu berulang. Menurut Ketua Advokasi Walhi, Nur Hidayati, para pembakar hutan adalah 10 perusahaan raksasa multinasional dan asing, yang komisarisnya petinggi negeri ini. “Persoalan asap ini bukan kali ini saja, tetapi sudah berlangsung belasan tahun, bahkan puluhan tahun,” katanya setelah menjadi narasumber “Dialog Kenegaraan terkait Asap Bencana Nasional” di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu sore (28/10).

Dietgaskan Nur, kalau serius, pemerintah sudah bertindak sejak awal. Karena hanya berharap hujan turun dan ada fenomena El-Nino, kebakaran malah merajalela. “Kan pemerintah semula berharap, Oktober sudah hujan, ternyata belum, kondisi alam makin kering, kebakaran pun bertambah-tambah,” ujar Nur. (Ron/Pur)

Comments

comments