PribumiNews – Jambore Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi (Hipmi PT) Se-Asean yang berlangsung di Bandung Jawa Barat, akan dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo. Jambore Hipmi PT Se-Asean akan dimulai 22 -26 Mei 2016.

Menurut Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Hipmi Bahlil Lahadalia bahwa Presiden telah menyatakan kesediaan untuk membuka jambore terakbar bagi mahasiswa yang baru pertama kali diselenggarakan sejak Indonesia Merdeka.

“Bapak Presiden sudah menyatakan siap dan penyelenggaraannya pun sudah disesuaikan dengan jadwal Pak Jokowi,” tegas Bahlil saat konferensi pers di kantor HIPMI, di Bidakara 2, di Jakarta, Kamis (19/5/2016).

HIPMI 1

Jambore Hipmi PT Se-Asean ini akan berlangsung di STT Telkom Bandung dan akan diikuti oleh sekitar 4000-an mahasiswa dari berbagai negara di Asean dan Indonesia. Saat ini sudah ada sekitar 10 negara Asean yang menyatakan bersedia mengirim delegasinya.

Lanjut Bahlil, di Jambore nanti akan ada pembekalan untuk mahasiswa dari beberapa pejabat negara seperti Menteri Rizal Ramli, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menpora Iman Nahrowi, Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta, Anggota DPR, Panglima TNI, bahkan dari tokoh masyarakat dan pengusaha nasional serta dari mantan ketua umum Hipmi.

Jambore ini mengambil tema “Reolusi Mental, Jalan Tengah Membangun Entrepreneur Muda Berdaya Saing di Era MEA”. Jambore ini memiliki tujuan mempromosikan semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda terdidik dan produktif yakni mahasiswa. Pasalnya, berdasarkan surai Hipmi, sebanyak 80 persen mahasiswa di PT Indonesia masih bercitra-cita menjadi pekerja, belum mau menjadi pengusaha.

Indonesia perlu menciptakan lebih banyak pengusaha untuk menciptakan lebih banyak lagi lapangan pekerjaan, meningkatkan daya beli masyarakat serta menciptakan kepastian pendapatan. Saat ini, Indonesia baru memiliki 1,5% pengusaha dari sekitar 252 juta penduduk Tanah Air. Indonesia masih membutuhkan sekitar 1,7 juta pengusaha untuk mencapai angka dua persen.
Sedangkan di negara Asean seperti Singapura tercatat sebanyak 7%, Malaysia (5%), Thailand (4,5%), dan Vietnam (3,3%) jumlah pengusahanya.

Dikatakannya, tak hanya sekedar melipatgandakan jumlah pengusaha, Indonesia juga perlu menciptakan pengusaha baru yang berkualitas dan terdidik yakni dari kalangan mahasiswa. Pengusaha berlatarbelakang sarjana ini, ujar Bahlil, akan memiliki kemampuan meningkatkan kapasitas usahanya serta akan kuat menghadapi persaingan yang semakin ketat di era masyarakat ekonomi Asean (MEA). (Doddi)

Comments

comments