Perekonomian Nasional 2017 Masih Penuh Tantangan dan Ketidakpastian

0
382

pribuminews.com – Sejumlah kalangan baik itu pejabat, bankir, pelaku bisnis, atau pengamat ekonomi, menyatukan suara ketika ditanya tentang prospek perekonomian Indonesia pada 2017.

Mereka mengatakan bahwa perekonomian nasional pada tahun depan masih dipenuhi tantangan dan ketidakpastian.

Meski demikian, mereka tetap menyatakan optimistis bahwa perekonomian nasional masih tetap akan tumbuh. Besarannya pada kisaran 5,3 persen-5,6 persen atau melebihi asumsi yang diproyeksikan pemerintah dalam APBN 2017 sebesar 5,1 persen.

Di era globalisasi saat ini, maka perekonomian suatu negara seperti Indonesia, selain dipengaruhi kondisi internal, juga kondisi eksternal atau global.

Pertumbuhan ekonomi global yang melambat yang antara lain disebabkan harga komoditas yang terus berfluktuasi dan belum pastinya pemulihan ekonomi di Eropa setelah Inggris keluar dari Uni Eropa atau Brexit.

Selain itu, dunia masih menunggu kebijakan Amerika Serikat (AS) setelah Donald Trump terpilih menjadi Presiden dan mulai menjabat pada Januari 2017. Dunia masih menanti apakah Trump benar-benar akan memproteksi perekonomian AS.

Juga perlambatan ekonomi di Tiongkok, yang merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia dan mitra dagang utama Indonesia.

Dari sisi internal, kondisi politik nasional dan lokal yang saat ini diwarnai oleh euforia kebebasan sipil, namun lembaga demokrasi sebagai saluran hak politik masyarakat cenderung tersumbat, secara langsung dan tidak langsung, bisa mempengaruhi iklim investasi dan kinerja ekonomi.

Untuk itu, agar perekonomian Indonesia bisa lebih berdaya saing dan tidak rentan dari gejolak salah satunya adalah dengan memperkuat sektor unggulan seperti sektor kemaritiman.

Pada tahun depan, peran pemerintah dinilai sangat penting untuk menjaga momentum pembangunan, meningkatkan daya saing usaha agar perekonomian nasional dapat tumbuh, mengurangi kemiskinan, menciptakan kesempatan kerja dan mengatasi kesenjangan.

Kebijakan fiskal masih diharapkan mampu menjadi instrumen efektif untuk memperkuat ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan global dan regional dengan mendukung penciptaan pertumbuhan yang inklusif dan berdaya tahan.

Konsumsi rumah tangga maupun pemerintah diperkirakan bisa menjadi pendorong utama perekonomian, sebagai dampak dari laju inflasi yang relatif terkendali dan hanya mencapai empat persen pada 2017.

Selain itu, rendahnya suku bunga acuan yang didukung oleh implementasi 14 jilid paket kebijakan ekonomi dapat mendorong kinerja investasi dan berdampak positif kepada kinerja pertumbuhan ekonomi.

Namun, sektor ekspor diperkirakan belum mengalami pemulihan, akibat adanya perlambatan perekonomian global, sehingga upaya melakukan diversifikasi pasar ekspor baru di Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin harus disiapkan.(ant)

Comments

comments

LEAVE A REPLY