Rupiah Anjlok ke 13.546 per Dolar AS

0
190

pribuminews.com – Bank Indonesia menilai melemahnya kurs rupiah dalam beberapa hari terakhir disebabkan reaksi pasar menyusul rencana pemerintah Amerika Serikat untuk menurunkan pajak, dan pernyataan Gubernur Bank Sentral AS yang cenderung “hawkish” terkait membaiknya perekonomian di AS.

“Penyebabnya lebih karena menguatnya dolar AS disebabkan antara lain pernyataan Yellen yang cenderung hawkish dan rencana reformasi pajak AS,” kata Asisten Gubernur BI Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Dody Budi Waluyo kepada Antara.

Menurut dia, sentimen dari AS itu juga tidak hanya melemahkan rupiah, namun juga sebagian besar mata uang negara-negara di kawasan. Kurs rupiah yang menurun 0,45 persen, masih lebih baik dibandingkan Yen Jepang yang melemah 0,60 persen.

Pada pembukaan pasar Kamis pagi ini, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah menjadi Rp13.547 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.445 per dolar Amerika Serikat (AS). Di pasar spot, Kamis siang ini, nilai tukar rupiah di level Rp13.546 per dolar AS.

Sementara, kurs Refrensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis (28/9/2017) ini, di posisi Rp13.464 per dolar AS atau terdepresiasi 80 poin dari posisi Rp13.384 pada Rabu (27/9).

Kurs jual di Rp13.531 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di Rp13.397 per dolar AS. Selisih antara kurs jual dan kurs beli adalah Rp134.

Analis Monex Investindo Futures Agus Chandra mengatakan bahwa rencana pemangkasan pajak oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump diyakini pasar dapat memicu pertumbuhan dan tingkat investasi di AS,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, nada “hawkish” dari Gubernur The Fed Janet Yellen untuk menaikkan suku bunganya pada akhir tahun ini turut menjadi sentimen positif bagi dolar AS di pasar valas.

“Dolar AS menguat dipicu oleh pernyataan Janet Yellen yang membuka peluang kenaikan suku bunganya,” kata dia.

“Hawkish” adalah komentar atau pernyataan yang tegas atau agresif, terhadap perkiraan positif pertumbuhan ekonomi (pasar tenaga kerja/tingkat pengangguran/daya beli konsumen/produksi manufaktur, dst) dan inflasi yang seringkali berdampak atau terkait dengan tingkat suku bunga.(ANT)

Comments

comments

LEAVE A REPLY