Beda Pilihan Saat Pilkada, Guru SD Dipecat

411
Screenshoot WA percakapan guru yang dipecat karena beda pilihan. (Foto: Istimewa)

pribuminews.com – Ada peristiwa yang menyita perhatian netizen dari perhelatan Pilkada di wilayah Bekasi. Sebuah curhatan netizen virall di media sosial yang bercerita tentang seorang guru yang dipecat karena diduga berbeda pilihan.

Seorang guru SDIT Darul Maza Bekasi tersebut diberhentikan secara tidak hormat lewat grup WhatsApp. Pemilik akun bernama Andriyanto Putra Valora mengunggah percakapan antara guru dan pihak yayasan tersebut.

Dalam unggahannya tersebut, Andriyanto menuliskan keterangan yang menyebut jika istrinya tidak mau mengikuti arahan pihak yayasan untuk memilih salah satu pasangan calon Gubernur Jawa Barat dan calon Wali Kota Bekasi.

Andriyanto menyebut, istrinya lebih memilih Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum untuk Pilgub Jawa Barat.

Berikut ini penuturan lengkap Andriyanto:

SEORANG GURU SDIT DARUL MAZA BEKASI DIBERHENTIKAN DENGAN TIDAK HORMAT HANYA LEWAT WA GROUP KARENA MEMILIH PASANGAN RIDWAN KAMIL DAN UU UNTUK JABAR 1

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarokatuh

Pilkada Gubernur Jabar dan Wali Kota Bekasi telah usai.

Kami ucapkan selamat kepada Bapak Ridwan Kamil dan Bapak Uu, sebagai pemenang dalam Pilgub Jabar. Dan kami juga ucapkan selamat kepada Bang Pepen dan Mas Tri sebagai pemenang di pilkada Kota Bekasi.

Pilkada hari kemarin, adalah hari yg tidak akan pernah saya lupakan dalam HIDUP, dan saya nyatakan Alhamdulillah tidak salah pilih berada pada poros RINDU dan Pepen+Tri.

Kenapa tidak bisa saya lupakan, karena perbedaan pilihan membuat ISTRI saya dipecat secara tidak hormat di SDIT DARUL MAZA Bekasi hanya dengan cara diberhentikan lewat WA GROUP karena ikut memilih Ridwan Kamil dan UU untuk Jabar 1 beserta Pepen Tri untuk Kota Bekasi yang menurut mereka bersebrangan dengan pilihan mereka, atau visi misi Yayasan Darun najaat Maza.

Sungguh sebuah penghinaan bagi kami, seorang Guru SDIT diberhentikan karena masalah Beda Pilihan dalam PILKADA, miris, dunia Pendidikan dicampurtangankan oleh kepentingan POLITIK oleh oknum yg tidak bertanggungjawab.

Ya Allah…. Semoga ini jalan terbaik bagi kami, terbebas dari orang-orang zalim.

Wassalamu’alaikum.

Kabar pemecatan tersebut menjadi viral dan mendapat beragam tanggapan dari netizen.

Namun, pihak sekolah ternyata membantah telah melakukan pemecatan terhadap guru.

Tri, salah satu guru dari SDIT Darul Maza Bekasi mengungkapkan sebenarnya itu hanya kesalahpahaman masalah pimpinan dan bawahan tidak ada ada masalah yang lain, apalagi dikait-kaitkan dengan yang lain.

“Jadi sampai saat ini dengan lapang dada para pimpinan kami sepakat untuk menyelesaikan secara kekeluargaan, tadi pagi Alhamdulillah semua sudah memutuskan bahwa semua ini sudah tidak akan ada lagi masalah, sudah meminta maaf kedua belah pihak jadi kita anggap semua sudah selesai,” tuturnya saat ditemui, pada Jumat (29/6/2018).

Ia menjelaskan pihak sekolah tidak pernah mengarahkan untuk memilih salah satu pasangan calon saat Pilkada pada pada Rabu 27 Juni 2018.

“Kita tidak ada arahan, maksudnya tidak ada paksaan memilih hanya memang itu semua kembali lagi ke diri kita kita mau pilih apa kalau memang kita mau pilih nomor 1, 2, 3, atau 4 itu sudah hak kita tidak ada yang di haruskan dan dipaksankan untuk memilih,” jelasnya.

Ia menegaskan tidak ada kata pemecatan atau dikeluarkan.

“Tidak ada niatan seperti itu, mungkin karena kita memang sedang menghadapi abis ujian, banyak event-event sebelumnya di sekolah kemudian baru pulang kampung juga mungkin semuanya jadi dalam kondisi lelah ada salah ucap ada salah kata itu wajar wajar saja semua orang bisa dalam posisi seperti itu dan itu tidak ada rencana atau kata terucap sebuah keputusan yang sepihak gak ada sebenernya,” tegasnya.

Tri menegaskan kembali soal kabar pemecetan itu sebenarnya tidak ada.

“Ya itu kembali lagi itu hanya kesalahpahaman kata, makanya kan biasanya kalau komunikasi di Whatsapp itu banyak orang salah paham, lebih baik memang komunikasi itu tatap langsung, hindari aja deh komunikasi lewat WA,” tegasnya.

Selanjutnya, ia mengatakan pihak yayasan sudah ke rumah guru tersebut.

“Kebetulan pimpinan kami dengan yayasan ke rumah beliau menjelaskan yang sebenarnya kalau memang menganggap kami salah, kami minta maaf,” ucapnya.

Sementara itu, Robiatul Alawiyah (28), guru yang diberhetikan via WhatsApp dalam viral tersebut mengatakan, pihak sekolah telah datang meminta maaf dan permasalahan ini sudah selesai.

“Viral tersebut memang benar adanya. Tapi tadi pagi dari pihak yayasan sudah ada yang datang ke rumah saya, mereka sudah mengakui bahwa itu kelalaian dari mereka, mereka sudah minta maaf, mereka mengakui bahwa mereka salah, dan dari pihak kami pun dari keluarga besar saya, dari saya pribadi pun sudah memaafkan hal tersebut. Dan kita sudah islah kita sudah damai, dan saya berharap masalah ini tidak menimbulkan masalah yang baru. Kita sudah berdamai kita sudah baik-baik saja,” ujarnya saat ditemui di rumahnya yang tidak jauh dari lokasi sekolah, di RT 01 RW 03 Kelurahan Jatisari Kecamatan Jatiasih, Jumat (29/6/2018).(tribunnewsbogor.com)

Comments

comments