Dipecat karena Beda Pilihan Saat Nyoblos Cagub Jabar, Ini Respon RK

402
Guru SD Dipecat via WA (kiri) karena Beda Pilihan di Pilkada Jabar. Dan Ridwan Kamil siap membantu mencarikan pekerjaan baru sebagai guru. (Foto: Istimewa)

pribuminews.com – Robiatul Alawiyah (28) tak menyangka jika pesta demokrasi dalam pemilihan kepala daerah sangat berdampak kepadanya.

Wanita asal Jati Asih, Bekasi itu mesti menerima kenyataan jika dirinya harus kehilangan pekerjaan tak lama setelah pencoblosan. Pemecatan yang dilakukan pihak sekolah kepada Robiah terbilang berbeda lantaran dilakukan via pesan Watsapp.

Robiah dipecat lantaran telah memposting calon yang menang dari hasil penghitungan sementara saat Pilgub Jabar yang digelar Rabu 27 juni lalu.

TribunnewsBogor.com merangkum fakta-fakta menarik dari berbagai sumber soal pemecatan Robiah dari sekolah tempatnya mengajar itu:

1. Viral di Medsos

Kabar pemecatan Robiatul Alawiyah pun viral dimedia sosial (medsos) setelah ada sebuah akun facebook yang mempostingnya. Adawiyah yang mengajar di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Darul Maza Bekasi, diberhentikan secara tidak hormat oleh pihak yayasan.

Pemecatan tersebut dilakukan hanya karena beda pilihan Wali Kota Bekasi dan Gubernur Jawa Barat 2018. Informasi itu diungkap oleh seorang warganet bernama Andriyanto Putra Valora yang mengaku sebagai suami dari guru tersebut.

Melalui media sosial, Andriyanto mengunggah screenshot percakapan antara guru tersebut dengan pihak yayasan.

Dalam unggahannya tersebut, Andriyanto menuliskan keterangan yang menyebut jika istrinya tidak mau mengikuti arahan pihak yayasan untuk memilih pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu pada Pilgub Jawa Barat, dan Nur Supriyanto-Adhy Firdaus Saady pada pemilihan wali kota (Piwalkot) Bekasi.

Andriyanto menyebut, istrinya lebih memilih Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum untuk Pilgub Jawa Barat. Sementara pada Piwalkot Bekasi dia menjatuhkan pilihan pada pasangan Rahmat Effendi-Tri Adhianto Tjahyono.

Alhasil, guru tersebut diberhentikan oleh pihak yayasan.

2. Yayan Bantah melakukan pemecatan

Setelah kabar pemecatan itu viral, pihak yayasan pun langsung medatangi rumah Robiatul Awaliyah didaerah Jati Asih, Bekasi.

Seorang guru SDIT Darul Maza Bekasi, Tri mengatakan jika persolaan tersebut sebenarnya hanya kesalahpahaman antara pimpinan dan bawahan tidak ada ada masalah yang lain.

“Jadi sampai saat ini dengan lapang dada para pimpinan kami sepakat untuk menyelesaikan secara kekeluargaan, tadi pagi Alhamdulillah semua sudah memutuskan bahwa semua ini sudah tidak akan ada lagi masalah, sudah meminta maaf kedua belah pihak jadi kita anggap semua sudah selesai,” tuturnya seperti dilansir Warta Kota, pada Jumat (29/6/2018).

Ia menjelaskan pihak sekolah tidak pernah mengarahkan untuk memilih salah satu pasangan calon saat Pilkada pada pada Rabu 27 Juni 2018.

“Kita tidak ada arahan, maksudnya tidak ada paksaan memilih hanya memang itu semua kembali lagi ke diri kita kita mau pilih apa kalau memang kita mau pilih nomor 1, 2, 3, atau 4 itu sudah hak kita tidak ada yang di haruskan dan dipaksankan untuk memilih,” jelasnya.

Ia menegaskan tidak ada kata pemecatan atau dikeluarkan.

“Tidak ada niatan seperti itu, mungkin karena kita memang sedang menghadapi abis ujian, banyak event-event sebelumnya di sekolah kemudian baru pulang kampung juga mungkin semuanya jadi dalam kondisi lelah ada salah ucap ada salah kata itu wajar wajar saja semua orang bisa dalam posisi seperti itu dan itu tidak ada rencana atau kata terucap sebuah keputusan yang sepihak gak ada sebenernya,” tegasnya.

Tri menegaskan kembali soal kabar pemecetan itu tidak ada.

“Ya itu kembali lagi itu hanya kesalahpahaman kata, makanya kan biasanya kalau komunikasi di Whatsapp itu banyak orang salah paham, lebih baik memang komunikasi itu tatap langsung, hindari aja deh komunikasi lewat WA,” tegasnya.

Lanjutnya, ia mengatakan pihak yayasan sudah kenrumah guru tersebut.

“Kebetulan pimpinan kami dengan yayasan ke rumah beliau menjelaskan yang sebenarnya kalau memang menganggap kami salah, kami minta maaf,” ucapnya.

3. Robiatul Adawiyah pilih pindah mengajar

Robiatul Adawiyah (28) memilih mencari pekrjaan lain dibanding harus kembali mengajar di sekolah yang sudah memecatnya melalui pesan Watsapp.

Robiah menceritakan kejadiannya awalnya, tanggal 27 Juni 2018 sekitar pukul 14.00, usai hasil quick count bahwa salah satu pasangan calon unggul, kemudian ia meng-update status soal pasangan yang unggul itu.

“Iya, awalnya saya update status soal pasangan calon yang menang quick count. Dari situ, pihak yayasan ada yang menanggapi dan terjadilah apa yang di group WA dan menjadi viral itu,” katanya, saat dijumpai di rumahnya di RT 1 RW 3, Kelurahan Jatisari Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jumat (29/6/2018).

Menurutnya, isi dari chat WA tersebut dinilai merupakan ada kata-kata pemberhentian dirinya dari pihak yayasan.

“Saya dan suami kaget. Ini kan Pilkada bebas kita mau pilih apa karena pilihan itu soal hati nurani. Suami saya kesel aja, jadi dia update status di Facebook nya, bisa jadi viral itu, saya engga tahu dan engga nyangka,” ucapnya wanita yang sudah tiga tahun mengajar disekolah tersebut.

Lulusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar di UPI Purwakarta ini melanjutkan, usai update suaminya ramai dan menjadi viral, pihak yayasan mendatangi rumahnya meminta maaf dan permasalah ini sudah selesai.

“Viral tersebut memang benar adanya. Tapi tadi pagi dari pihak yayasan sudah ada yang datang ke rumah saya, mereka sudah mengakui bahwa itu kelalaian dari mereka, mereka sudah minta maaf, mereka mengakui bahwa mereka salah, dan dari pihak kami pun dari keluarga besar saya, dari saya pribadi pun bebesar hati memaafkan hal tersebut. Dan kita sudah islah kita sudah damai, dan saya berharap masalah ini tidak menimbulkan masalah yang baru. Kita sudah berdamai kita sudah baik-baik saja, kita berharap masalah ini tidak menimbulkan masalah baru,” ujarnya.

Soal apakah ada himbauan untuk memilih calon tertentu, Robiah menjawab pada saat dirinya melamar kerja disekolah tersebut secara tertulis tidak ada.

“Kalo di sekolah itu, saya pribadi itu tidak ada, dari yayasan secara tertulis baik itu pada saat saya melamar kerja di sana tidak ada yang namanya pernyataan bahwa saya harus memilih sesuai dengan pilihan yayasan atau sesuai dengan tuntunan yayasan itu tidak ada,” kata Robiah, lulusan Pendidikan Guru SD UPI Purwakarta.

Saat ini, Robiah pun enggan untuk melanjutkan mengajar disekolah itu.

“Ya karena memang dari percakapan tersebut saya sudah dikeluarkan, walaupun memang dari pihak yayasan katanya tidak pernah mengeluarkan saya dan meminta saya untuk tetap mengajar di sekolah tersebut tapi saya pikir sebaiknya saya tidak di situ lagi, sebaiknya, mencari yang lain saja,” ujarnya.

Kendati demikian, ia belum tahu akan mengajar disekolah mana.
“Belum tahu mau ngajar di mana, ini lagi cari cari lamar ke sekolah lain,” katanya.

4. Ridwan Kamil Bakal Bantu Robiatul Adawiyah

Melalui akun instagram resminya, Ridwan Kamil (RK) mengungkapkan akan membantu Robiatul menacari pekerjaan baru. RK juga mengucapkan terimakasih lantaran Robiatu Adawiyah telah memilihnya saat Pilkada 27 juni lalu.

“Ibu Rabiatul Adawiyah, warga Jati Asih Bekasi, saya menghaturkan terima kasih karena hati nurani dan jari ibu sudah memilih saya kemarin.

Tanpa diduga Konsekuensinya ternyata ibu diberhentikan oleh sekolah tempat ibu mengajar hanya dengan via WA, hanya karena beda coblosan dengan arahan sekolah. Sabaaar ya bu.

Di Setiap cobaan hidup, selalu hadir juga pertolongan Allah. Ibu juga orang baik karena sudah memaafkan mereka yang melanggar hak asasi ibu .

Ahlak Ibu lah yang akan selalu kami jadikan contoh dan teladan. Insya Allah nanti saya sepenuh hati bantu untuk mencarikan ibu pekerjaan di tempat yang ibu nyaman lahir batin.

Hatur nuhun pisan untuk pengorbanannya. Cerita Ibu ini tidak akan pernah saya lupakan.

Dan menjadi penyemangat agar saya selalu amanah dan menjaga kepercayaan mereka yang berkorban untuk keyakinannya menitipkan mimpinya kepada saya. Hatur Nuhun.” tulisnya dalam akun @ridwankamil pada Jumat (29/6/2018) sekitar sejam yang lalu.(tribunnewsbogor.com)

Comments

comments